"Tuhan" seringkali tersingkirkan dari posisinya sebagai penguasa, meski hanya sesaat
Tersingkirnya Tuhan lebih sering karena kita sebagai hamba dengan sengaja menyingkirkan bahkan membuang Tuhan dengan mudahnya.
Tuhan adalah "sesuatu" yang seharusnya menempati dan menguasai hati (jiwa dan rasa) manusia, namun pada kenyataan yang berlaku sehari-hari, terlalu banyak hal yang dengan "Ujug-ujug" atau tiba-tiba menjadi penguasa baru bagi hati kita, apakah itu materi, kedudukan, kekasih dan hal lain selain Tuhan.
Istri yang cantik melenakan
Suami yang gagah memambukkan hati
Harta kekayaan yang melimpah menjadikan diri semakin tamak
Kedudukan menjadikan jiwa sombong merasa paling hebat dibandingkan dengan yang lain.
Kebanggaan dan kesombongan serta hal lain pada saat-saat tertentu bahkan lebih sering menjadi tuhan.
Eksistensi Tuhan Hakiki tidak lagi mampu bertahan dalam diri, Dia terhijab oleh banyak hal yang meliputi tingkah polah dan keseharian kita.
Hingga pada klimaksnya, "Tuhanpun Terbuang" dan "Tuhan tidaklah lagi menjadi Tuhan"
Lalu kemanakah Tuhan?
Apakah seperti kata Nietze, "Tuhan telah mati dan kitalah yang membunuhnya"?
Tuhan tidak mati, hanya saja kita yang tidak menyadari bahwa Tuhan itu ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar