Selasa, 08 Mei 2012

Mencari yang salah-Semuanya salah

Haruskah kita mencari siapa yang salah dari tiap kesalahan atau suatu hal yang tidak sesuai dengan skenario yang dibuat?

Dalam kehidupan, manusia tidak akan terlepas dari permasalahan/problematika. Hal yang membuat hidup menarik dan unik adalah adanya permasalahan beserta dinamikanya dan cara menyelesaikannya.

Dalam tiap permasalahan atau konflik yang terjadi, seringkali harus ditemukan kambing hitam atau orang yang dianggap bertanggung jawab dari kesalahan yang ada atau kita menyebutnya sebagai akar permasalah.
Problematika yang dihadapi oleh seseorang sangatlah beraneka ragam, mulai dari permasalahan  agama, sosial, budaya, ekonomi dan berbagai hal lain yang melingkupi ruang kehidupan manusia.Dari problematika yang dihadapi, timbullah konflik horizontal antar manusia yang menyebabkan perpecahan, bahkan pada tahap berikutnya, yang lahir adalah konflik kelompok atau golongan.

Sifat dasar manusia adalah ingin selalu menjadi yang paling benar, terbaik, sempurna dan tidak pernah salah. Tidak ada seorangpun yang berharap menjadi salah, terdakwa, kambing hitam atau orang yang bersalah.
Dalam tiap konflik manusia, maka akan selalu menjadi hal yang lazim jika mencari siapa yang salah dan siapa yang patut dipersalahkan atau dijadikan kambing hitam sebagai ekses permasalahan yang ada.
Banyak orang berfikir bahwa dengan menunjuk seseorang menjadi "orang yang bersalah" maka sedikit banyaknya permasalahan sudah dapat diurai dan dianggap selesai.
Sebagai contoh kecil, konflik horizontal antara dua orang yang mempunyai hubungan "spesial" seperti berpacaran ataupun persahabatan.
Dalam contoh ini, seringkali salah satu pihak berucap "Kamu itu yang salah, tidak bisa...". dari sini kita dapat melihat bahwa pihak ini menganggap dan menimpakan kesalahan dari permalahan yang ada kepada pihak lain, atau dalam kesempatan yang lain salah satu pihak akan berucap "Iya, aku yang salah karena...". Sejatinya kalimat ini berarti bukan sebuah pengakuan akan kesalahan yang ada dalam permasalahan yang ada, akan tetapi lebih kepada "Aku itu gak salah, hanya saja biar cepat selesai ya sudah aku bilang aku yang salah, sebenarnya sih kamu!".

Menacari siapa yang salah dan siapa yang benar, pada dasarnya tidaklah menyelesaiakan permasalahan yang ada, hal ini hanya wujud dari ketidakmampuan mengelola konflik yang terjadi. Namun sudah menjadi suatu kelaziman dalam kehidupan kita, dalam tiap permasalahan atau konflik, haruslah ada yang dapat dijadikan "tersangka" dan divonis sebagai orang yang ber"SALAH"

Solusi dari konflik yang ada sebenarnya adalah bukan mencari "siapa yang salah dan siapa yang benar", bukan pula mencari siapa yang patut dipersalahkan atau siapa yang dianggap kambing hitam. Akan tetapi lebih kepada APA YANG SALAH dan APA YANG HARUS DIBENAHI/DIPERBAIKI?
Dengan mencari APA yang salah bukan SIAPA yang salah, kita belajar berkompromi dengan kesalahan yang orang lain perbuat atau kesalahan yang kita lakukan.

So, kita tidak akan pernah dapat menyelesaikan konflik yang terjadi jika kita selalu mencari SIAPA yang salah, lain halnya jika kita memilih solusi dengan menganalisa APA yang salah dalam permasalahan yang terjadi.

Jika kita tetep "kekeuh" mencari SIAPA yang salah, maka sejatinya SEMUA pihak SALAH-dan SEMUA Pihak BERSALAH.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar