Suatu ketika saya berjalan
Di tengah jalan saya berpapasan dengan puluhan bahkan ratusan orang
Orang dengan isi kepala yang berbagai macam
Cinta, kasih sayang, rasa rindu, kebencian, rencana jahat, niat baik dan berbagai macam pemikiran yang tersimpan di sudut terdalam mereka yang saya jumpai.
Saya coba menerka-nerka apa yang difikirkan orang yang saya lihat, makin dalam saya memandang, mengamati dan menganalisa.Cara berpakaian, tingkah polah dan tindak tanduk, serta hal lainnya.
Hingga pada titik nadzirnya saya hampir menarik kesimpulan tentang sifat dan status seseorang apakah baik atau buruk, jahat atau budiman.
Tiba-tiba saja, angin bertiup lembut, berhembus menghampiri dan membelaiku, serasa meneriakan makian yang teramat kencangnya. "Apa yang engkau lakukan!
Sudahkah engkau mengoreksi dan menilai dirimu sendiri, seberapa baik atau burukkah engkau! Sudahkah menakar dan menimbang kebaikan dan keburukan yang engkau miliki!"
Sudahkah engkau mengoreksi dan menilai dirimu sendiri, seberapa baik atau burukkah engkau! Sudahkah menakar dan menimbang kebaikan dan keburukan yang engkau miliki!"
Aku tertegun, seakan tersadar dari mimpi panjang lamunku, "Subhanallah, ternyata aku terlalu egocentris, hanya mampu memberikan stigma-stigma terhadap orang lain, sedangkan CAP yang harus ku sandangpun aku tidak tahu..."
Kawan, seringkali kita dengan pandai dan handalnya menjadi komentator dan kritikus bahkan memberikan predikat kepada diri sendiri sebagai "Pengamat" bahkan "Pakar" dalam menilai dan mengamatai tingkah laku orang-orang di sekitar kita, apakah orang tersebut artis, atlet, atau orang-orang yang kita tidak ketahui identitasnya yang tanpa sengaja kita jumpai di jalan-jalan yang kita lalui.
Disebabkan begitu handalnya dan seringnya kita mengoreksi dan memberikan predikat kepada orang lain, sampai-sampai kita lupa untuk mengoreksi segala apa yang ada pada diri sendiri, apakah baik atau buruk.
Kita selalu menganggap diri kita baik, bahkan lebih baik dari orang lain.
Padahal, mungkin saja perilaku dan tingkah polah kita ternyata lebih buruk dan lebih hina dari orang yang kita nilai hina.
Kesombongan merajai alam fikir dan perilaku keseharian yang ada, dengan menganggap diri kita lebih baik dari yang lainnya. Orang lain tidak lebih baik dari diri kita. Kita selalu benar dan orang lain selalu menjadi salah.
Bukankah Iblis yang menempati kedudukan tertinggi bahkan lebih tinggi dari malaikat, pada akhirnya menjadi makhluk yang paling hina karena kesombongannya berstatemen "Ana Khoirun Minhu" "Wahai Allah, akulah yang lebih baik dari Adam".
Pantaskah kita menilai orang lain, sedangkan kita tidak tahu nilai kita sendiri?
Pantaskah menghardik orang lain, sedangkan kita lebih buruk daripadanya?
Layakkah kita menghujat keburukan orang lain, sedangkan kita tidak lebih baik?
Layakkah kita menghina dan mencela sikap tingkah polah orang lain, sedangkan apa yang kita lakukan ternyata lebih tercela dari padanya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar